Tuesday, November 12, 2013

Kekerasan Terhadap Buruh (4): Kejahatan yang Direncanakan?

Aspelindo bagikan selebaran ke pabrik-pabrik. Kampanye anti serikat pekerja?
Selebaran itu dibagikan ke pabrik – pabrik. Tepatnya pada tanggal 30 Oktober 2013. Hanya satu hari, sebelum mogok nasional akan digelar di 150 Kabuparen / Kota yang ada di Indonesia. Isinya, adalah sebuah himbauan provokatif, yang pada intinya untuk mencegah agar mogok kerja nasional urung dilakukan. Tak hanya itu, disinyalir, selebaran itu juga menjadi bagian dari kampanye anti serikat pekerja.
Saya akan menceritakan kepada kalian, apa isi selebaran yang mereka bagikan. Oleh karena itu, pelankan debar didada. Akan lebih baik jika Anda duduk santai. Ambil secangkir kopi, atau apalah itu, yang penting Anda bisa merasa nyaman saat membacanya nanti.
Dan mari kita baca perlahan:

“Yth. Pimpinan Perusahaan di kawasan industrial Bekasi,” begitu bunyi dari kalimat pembuka selebaran tadi.
“Jangan ada kata meliburkan karyawan di tanggal yang sudah dijadwalkan mogok nasional oleh serikat. Karyawan adalah perangkat perusahaan anda, dan masyarakat juga bersama anda.”
Memang tak seharusnya pengusaha meliburkan karyawannya. Apalagi melakukan ganti hari. Mogok kerja adalah menghentikan produksi dengan sengaja, dan bukan meliburkannya.
Jika kemudian kita mendapati di hari mogok kerja nasional berlangsung dan masih ada perusahaan yang beroperasi, memang itulah realitas yang terjadi. Seringkali kesadaran itu tak bisa dipaksakan. Selalu ada batu sandungan didalam setiap perjuangan. Dan karena itulah, setiap pejuang selalu memiliki kemuliaan, sedang para penakut itu sesungguhnya tak lebih dari pecundang.
“Jika serikat memaksa kehendak dengan aksi sweeping dan sok jagoan di Bekasi, biar kami bersama masyarakat Bekasi yang akan memberikan pelajaran sepanjang masa.”
Membaca kalimat ini, ada getaran hebat yang menjalar keseluruh tubuh. Tak salah jika kami menduga bahwa kekerasan itu sudah direncanakan sebelumnya. Mereka memang berniat dari awal untuk membuat celaka para buruh yang sedang melakukan mogok kerja.
“Kami bersama masyarakat Bekasi akan memberikan pelajaran sepanjang masa,” dan akibatnya, puluhan orang roboh bersimbah darah. Satu diantaranya cukup kritis karena dibacok dibagian kepala yang mengakibatkan keretakan pada tengkoraknya.
Wajar jika kami menyimpulkan ini adalah sebuah percobaan pembunuhan. Bukan sebagai aksi premanisme biasa.
“Kami juga sudah tahu oknum-oknum serikat penghasut yang jika teman mereka di PHK mereka juga tidak bertanggung jawab dan tidak bisa apa-apa. Mereka sedang sok jadi pahlawan dengan berpotensi mengorbankan banyak hal dengan segudang kepentingan politik pribadi mereka. Dan kepentingan Internasional yang menginginkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar didunia bangkrut dan ditinggalkan Investor.”
Serikat pekerja, mendapatkan mandat konstitusi untuk membela, melindungi, dan memperjuangkan hak serta kepentingan pekerja dan keluarganya. Negara menjamin kebebasan berserikat, sekaligus menyatakan bahwa tugas untuk memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh berada diatas pundak organisasi serikat pekerja. Kalau kemudian serikat pekerja berjuang tentang kesejahteraan, dia tidak sedang menjadi sok pahlawan, tetapi karena memang itulah tugas yang harus mereka lakukan.
Dan lagi pula, ketika meminta anggotanya untuk bergerak, tak bisa dikatakan serikat sedang menghasut. Justru itulah makna berorganisasi. Ada instruksi yang harus dijalankan. Jika kemudian dalam hal menjalankan instruksi itu diperlukan penjelasan, sesungguhnya disitulah sebuah pembelajaran sedang dilakukan. Bukan menghasut.
Apakah ketika pimpinan partai politik meminta agar anggota DPR dari fraksi mereka menyetujui kenaikan BBM, bisa dikatakan pimpinan partai itu menghasut agar setuju BBM naik? Tidak, bukan? Begitu pun didalam serikat. Ketika pimpinan mengatakan mogok nasional harus dilakukan, itu bukan menghasut. Tetapi sebuah seruan yang wajib dilaksanakan.
Saya menyampaikan ini kepada kalian, agar yang benar memang benar.
“Pancasila adalah dasar negara kita. Lawan faham sosialisme,” begitu kalimat selanjutnya, dalam selebaran itu.
Saya menduga, sesungguhnya mereka tak mengerti apa itu faham Sosialisme, yang akan mereka lawan itu. Mereka tidak sedang melawan paham sosialisme, sebaliknya, mereka sedang diperbudak paham kapitalisme untuk memperkokoh cengkeraman kaum imperialis untuk bisa leluasa melakukan penghisapan atas manusia di negeri berjuluk zamrud di khatulistiwa ini.
Tentang Pancasila. Saya sepakat dengan itu. Tapi jangan hanya sebatas slogan. Dan mari kita wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, bukan keadilan bagi segelintir orang.
***
Dan bukan hanya kepada pengusaha, isi selebaran itu juga ditujukan kepada buruh.
“Yang terhormat para buruh,” katanya.
Jangan Anda diperalat oleh oknum serikat-serikat mengumpulkan uang dari jerih payah anda, dari perusahaan tempat anda bekerja. Dan ternyata secara tidak langsung dipergunakan untuk menghancurkan tempat anda bekerja.
Anda sejahtera, serikat kaya raya…… itu juga harapan kami. Tapi jangan dengan cara-cara memaksa dan merusak. Atau memang anda sendiri sudah bosan bekerja di Bekasi…???
Kami tidak rela Bekasi dirusak oleh oknum-oknum Serikat Pekerja dan kami akan melawan siapapun anda perusak itu.
Daripada Bekasi bangkrut, mendingan anda yang hengkang dari wilayah kami.
Wassalam
ASPELINDO BERSAMA MASYARAKAT BEKASI
***
Saya kira, setiap kalimat pada bagian akhir selebaran ini dipenuhi dengan kebencian. Pilihan katanya juga seperti disengaja untuk melakukan intimidasi. Melakukan penekanan.
Ini bukti nyata bahwa mogok nasional sengaja dihalang-halangi dengan sebuah cara yang tersistematis. Sebuah kampanye terselubung anti serikat pekerja. Karena orang yang membaca selebaran ini, seperti hendak dibuat benci.
Jangan lupakan satu hal, bahwa premanisme muncul ketika era grebek pabrik mencapai puncaknya. Secara nyata, dia hadir sebagai tameng para pengusaha untuk menghentikan upaya serikat pekerja memperjuangkan hak – hak kaum buruh.
Puluhan ribu karyawan outsourcing diangkat menjadi karyawan tetap karena perjuangan serikat. Mereka yang diupah murah, perlahan mulai diupah layak. Dan tiba – tiba mereka hadir untuk menghentikan semua capaian itu.
Lantas siapa sesungguhnya yang berjuang untuk kesejahteraan masyarakat Bekasi pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya?
Kalau harus dijawab, dan berdasarkan data fakta yang ada, tentu kita akan dengan lantang mengatakan: Serikat Pekerja.




Sumber : fspmi.co.id

No comments:

Post a Comment