Friday, November 8, 2013

Kekerasan Terhadap Buruh (1): Kejahatan yang Terencana?

Saat itu matahari pukul 12.00 siang sedang panas-panasnya, ketika sekelompok orang yang menamakan dirinya Aspelindo mendatangi Rumah Buruh di jembatan buntung, Kawasan EJIP, Bekasi. Kedatangan tamu tak diundang ini, sebenarnya tidaklah begitu mengejutkan. Apalagi, memang, sebelumnya telah terdengar kabar jika rencana mogok nasional yang akan dilakukan kaum buruh pada akhir bulan Oktober 2013 akan mendapatkan perlawanan.
Peristiwa itu terjadi dihari Kamis, tanggal 24 Oktober 2013. Hari yang akan selalu kami kenang. Karena sejak saat itulah berbagai kejadian ganjil susul menyusul terjadi di Bumi Industri, Bekasi.
Kedatangan mereka ke Rumah Buruh adalah untuk menyerahkan Surat Tuntutan Aspelindo. Tak hanya surat yang diberikan. Mereka juga memberikan ancaman kepada buruh, apabila tetap melakukan mogok nasional, maka Aspelindo bersama masyarakat Bekasi, khususnya yang berada didaerah kawasan industri akan melawan buruh yang sedang melakukan aksi mogok nasional.
Bahkan salah satu pengurus Aspelindo yang kami kenali bernama H. Sata, mengatakan: “Apabila buruh melakukan mogok yang tidak sesuai dengan Undang-undang akan dilawan, dan akan melakukan balasan kepada buruh yang melakukan mogok nasional serta akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan buruh.”
Pada saatnya nanti kami akan ceritakan kepada kalian, jika ancaman itu bukanlah sekedar gertak sambal. Terbukti, dalam aksi mogok nasional tanggal 31 Oktober 2013, belasan orang buruh roboh bersimbah darah. Apakah itu adalah balasan bagi buruh yang sedang melakukan pemogokan? Entahlah…
Sulit untuk dimengerti, jika kejadian di hari ‘Kamis berdarah’ tanggal 31 Oktober itu berdiri sendiri. Ada benang merah yang terhubung kuat diantara semua peristiwa itu.
Mari kita urai, maka akan terlihat dengan terang benderang jika semua itu saling berkaitan. Bahkan telah direncanakan dengan matang.
Yang mengejutkan, beberapa hari sebelum Aspelindo mendatangi Rumah Buruh, kami mendapat informasi tentang adanya SMS kepada anggota Aspelindo. SMS tersebut diduga berasal dari Sekjen Aspelindo, Budiyanto.
Oh ya, selain sebagai Sekjen Aspelindo, Budiyanto adalah juga anggota DPRD Kabupaten Bekasi. Sebagai wakil rakyat, yang konon katanya, terhormat.
Adapun bunyi sms yang diduga berasal dari Budiyanto adalah sebagai berikut: “YTH. Rekan2 Anggota Aspelindo. Kebersamaan kita menjaga agar investasi di Kabupaten Bekasi adalah tanggungjawab bersama “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Pergerakan, 24 Oktober 2013 membutuhkan pembiayaan pencetakan bendera, stiker, dll dan dikoordinasikan sesuai wilayah MM2100 oleh Bpk. H. Ruhimat, H. Anwar Musyadad, Jbbka Bpk. HM. Enjum, EJIP Bpk. H. Andri, Delta Mas Bpk. Ust. Amay Kunang, Lippo Cikarang Bpk. Sata, Hyunday Bpk. H. Delu. Mohon agar dipersiapkan dgn maksimal. Wass. Budiyanto Sekjen ASPELINDO. Cc. Bpk. Hartono, Bpk. HM. Kunang.”
Dan benar saja, tanggal 24 Oktober 2013 Aspelindo memang bergerak. Berkeliling kawasan industri. Menolak rencana mogok nasional yang akan dilakukan buruh. Salah satunya, dengan mendatangi Rumah Buruh, sebagaimana yang kami ceritakan diawal.
Aspelindo adalah singkatan dari Asosiasi Pengusaha Limbah Indonesia. Mengapa pengusaha limbah mencampuri mogok nasional? Jawaban ini bisa panjang. Namun yang jelas, ini berkaitan dengan “bau tak sedap” tentang bagi-bagi “rezeki” limbah industri.
Titik terang mulai nampak. Jika sekelompok orang yang “memusuhi” buruh itu, memang ada yang menggerakkan.



Sumber : fspmi.co.id

No comments:

Post a Comment