Wednesday, November 20, 2013

Ini 4 Perusahaan Asing yang Akan Hengkang dari Batam

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Kepri mencatat sebanyak empat perusahaan asing yang tergolong besar akan memindahkan industrinya dari Kota Batam akibat lonjakan kenaikan angka upah minimum dan ekskalasi unjuk rasa buruh.
IR Cahya, Ketua Apindo Kepri menyebutkan keempat perusahaan tersebut adalah PT Becthel, Conocophillips, Smoe Indonesia dan PT Siemens Hearing Instruments Batam.
“Beberapa investor besar mau hengkang, khususnya empat perusahaan itu,” ujarnya, Rabu (13/11/2013).
Dijelaskannya, PT Becthel merupakan salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan Kabil dan memiliki sekitar 3.000 orang karyawan. Perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi itu akan memindahkan industri ke Thailand.

Dari penelusuran Bisnis, Becthel merupakan salah satu dari lima perusahaan konstruksi dan rekayasa terbesar di Amerika Serikat. Perusahaan yang berpusat di San Fransisco ini memiliki total 53.000 orang karyawan yang tersebar di grup perusahaan di berbagai negara.
Kemudian ConocoPhillipis. Di Batam, perusahaan yang juga bergerak di sektor migas ini memiliki sekitar 1.000 orang karyawan di kawasan Kabil. Perusahaan energi ketiga terbesar di Amerika Serikat ini disebutkan Cahya akan menggeser industrinya dari Batam ke Johor.
Lalu PT Smoe Indonesia yang juga beroperasi di Kabil. Perusahaan Migas milik Singapura yang mempekerjakan sekitar 5.000 orang di Batam itu akan pindah meskipun belum diketahui Cahya ke negara mana.
Dan terakhir adalah PT Siemens Hearing Instruments Batam. Perusahaan produsen alat dengar yang beroperasi di kawasan industri Batamindo ini juga sudah siap-siap angkat kaki dari Batam, bahkan dari seluruh Indonesia.
Selain perusahaan yang sudah berencana pindah, lanjut Cahya, Apindo Kepri juga menerima informasi yang akurat mengenai beberapa investor yang menunda pembangunan industri baru atau melakukan ekspansi.
“Ada Yokohama di Batamindo yang tadinya mau tambah investasi tahun depan tapi cancel. Terus Drydock di Galangan Tanjung Uncang yang menunda investasi US$100 juta, semua rencana investasi di Batam di-hold,” jelasnya.
Menurutnya, Drydock terus mengurangi jumlah karyawan yang tadinya mencapai 20.000 orang menjadi hanya sekitar 3.000 pekerja.
Laporan pasti mengenai pengurangan karyawan juga diterima Apindo dari manajemen PT Ghimly. Perusahaan manufaktur yang beroperasi di kawasan industri Tunas itu memangkas jumlah pekerja dari 8.000 menjadi 3.000 orang.
“Pengusaha-pengusaha yang menjadi anggota Apindo di Kepri juga rata-rata sudah mengurangi jumlah karyawan antara 40 sampai 50 orang,” sambungnya.
Di tempat terpisah, Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Provinsi Kepri Oka Simatupang membenarkan data-data tersebut. “Malah sebenarnya jauh lebih banyak dari itu, tapi sulit saya beritahu ke publik, karena bisa meresahkan dan menggoyang iklim investasi di Kepri dan Batam khususnya,” kata dia.





Sumber : bisnis.com

No comments:

Post a Comment