Monday, November 11, 2013

KSPI: Jangan Paksakan Industri Padat Karya di Jabodetabek

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan industri padat karya hendaknya tidak memaksakan diri beroperasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangeran, dan Bekasi (Jabodetabek). "Jadi, kalau ada yang berteriak mengenai upah buruh tinggi, itu hanya industri padat karya," ujar Said Iqbal di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan industri padat karya seperti tekstil seharusnya mencari daerah yang upah buruhnya masih rendah seperti Semarang, Kendal, Sukabumi dan lainnya. "Kami sudah menghitung, upah minimum untuk DKI Jakarta dan sekitarnya Rp3,7 juta. Oleh karena itu, industri padat karya lebih baik tidak memaksakan diri," katanya menandaskan.

Disinggung mengenai nasib karyawan, jika perusahaan padat karya hengkang. Iqbal menambahkan bekas karyawan tersebut bisa bekerja kembali di perusahaan lain. "Misalnya di Cikarang, banyak industri otomotif. Jika pabrik tekstil tutup, maka langsung diisi oleh pabrik komponen otomatif tersebut," ujarnya.

Iqbal menceritakan hal itu sama seperti yang terjadi di Bekasi. Di mana dulu, sebagian besar tekstil, namun lambat-laun industri tekstil hengkang dan diisi industri otomotif. "Banyak yang bilang upah buruh di Indonesia tinggi. Padahal upah buruh tergantung daerah. Upah buruh di Semarang, Kendal dan Boyolali bahkan sama dengan Vietnam." tukas dia.

Untuk diketahui, sejumlah elemen buruh akan melakukan aksi mogok nasional selama lima hari pada akhir Oktober. Mereka mempunyai tiga tuntutan yakni upah layak, dihapuskannya sistem alih daya (outsourcing) dan penerapan jaminan sosial pada 2014.




Sumber : investor.co.id

No comments:

Post a Comment