Thursday, November 21, 2013

Kekayaan Alam Melimpah, Indonesia Masih Menjadi Daya Tarik bagi Asing

Indonesia dinilai masih mempunyai daya tarik bagi korporasi asing, tak terkecuali bagi IHI Corporation, perusahaan asal Jepang yang beroperasi di Indonesia lebih dari 10 tahun.
Presiden dan CEO IHI Tamotsu Saito mengatakan, Indonesia memiliki banyak hal fundamental bagi pertumbuhan ekonomi berkesinambungan, seperti demografi yang menjanjikan, tingginya jumlah tenaga kerja, dan kekayaan alam yang melimpah.
“Barang kami high tech, tapi belum tentu high cost. Kami berusaha mengurangi high cost. Harga (bahan baku di Indonesia) yang tidak mahal menjadi alasan kami mengembangkan bisnis di Indonesia,” kata dia di Jakarta, Rabu (20/11/2013).
Dengan alasan itulah, perusahaan yang bergerak di tiga lini bisnis, energi, infrastruktur, dan peralatan industri itu, menggelar “IHI Forum 2013″. Forum ini memperkenalkan produk dan solusi IHI untuk memperkuat infrastruktur sosial dan industri yang sangat penting bagi perkembangan Indonesia di masa depan.
“Forum ini adalah perwujudan komitmen kami untuk menumbuhkan bisnis kami dalam perspektif jangka panjang,” kata Tamotsu.

Saat ini IHI Corporation memiliki tiga anak cabang yakni PT IHI tansport Machinery Indonesia, PT IHI Gasification Indonesia, dan PT Cilegon Fabricators yang memulai basis manufaktur pada tahun 2002.
Dalam kesempatan jumpa pers dengan wartawan, Tamotsu menambahkan, pabriknya di Cilegon adalah satu-satunya boiler terbesar di Indonesia. Ia juga menyebut perusahaannya telah mengembangkan power plant yang sebagian besar berasal dari batubara.
IHI Corporation juga tengah mengembangkan biomasa dari serbuk kayu. Sayangnya, perusahaan yang mempekerjakan 26.000 tenaga kerja itu belum berfokus pada pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. “Tapi kami sendiri di Jepang sedang membangun instalasi energi berbasis tenaga matahari,” tutur Tamotsu.
Sementara itu, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian Budi Darmadi yang juga hadir dalam forum tersebut menyampaikan, forum seperti ini penting untuk menarik perusahaan enginering agar mau berinvestasi pada industri berbasis teknologi tinggi (high tech).
“Jadi perusahaan engineering ini kita minta masuk Indonesia, kenapa? Karena kita butuh barang modal buatan indonesia, supaya mengurangi defisit barang modal,” kata Budi.
Budi mengatakan, kebutuhan barang modal semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Beberapa barang modal seperti turbin, mesin bubut, boiler, dan lainnya memang bisa dibuat sendiri oleh Indonesia. Namun, untuk spesifikasi yang lebih tinggi, sambung Budi, para insinyur Indonesia belum mampu.
“Jadi kita bisa buat boiler, tapi kapasitas berapa, macem-macem dari 8 megawatt sampai 1000 megawatt, kita baru bisa 500-600 megawatt,” katanya.




Sumber : fspmi.co.id

No comments:

Post a Comment