Friday, November 15, 2013

Ini Curhatan Buruh Perempuan Bergaji Minim

Budianti ikut dengan teman-teman kerjanya berunjuk rasa di Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/11/2013). Bukan tanpa alasan ia datang ke Kantor Pemerintah Provinsi Jabar sampai harus mandi hujan.

Kepada Okezone, perempuan berusia 39 tahun itu mengaku sudah 13 tahun menjadi buruh. Saat ini, ia bekerja di salah satu pabrik garmen di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung.

Sebulan, ia digaji Rp1.350.000. “Itu gaji kotor. Kalau di pabrik lain mah ada uang transportasi atau apalah. Kalau di pabrik tempat saya kerja sudah segitu saja,” ungkapnya.

Ia terpaksa bekerja untuk membantu menambah pemasukan bagi keluarga. Suaminya juga bekerja di pabrik garmen. “Suami saya juga buruh pabrik. Gajinya malah lebih kecil dari saya," ucap ibu dari tiga anak itu.

Meski digabung, gaji keduanya masih pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi, kebutuhan pendidikan anaknya yang duduk di bangku SMA dan SMP cukup besar.

Selain membiayai pendidikan anak, ia dan suaminya juga harus membayar cicilan sepeda motor. “Sebulan cicilannya Rp545 ribu,” paparnya.

Selain pengeluaran untuk sekolah dan cicilan sepeda motor, ia dan suaminya jelas harus menjaga dapurnya tetap ngebul serta beragam kebutuhan lainnya.

Namun, Budianti berprinsip bahwa hidup harus tetap dijalani. Gaji yang diterima dirinya dan suami tetap disyukuri. “Ya dipas-pasin saja buat hidup," tuturnya.

Ia pun punya alasan ikut berunjuk rasa bersama rekan-rekan sesama buruh yang tergabung di Konfederasi Serikat Nasional (KSN) Jawa Barat. Ia ingin ikut berjuang agar upah minimum kabupaten dan kota (UMK) bagi buruh menjadi lebih layak.

“Idealnya gaji buat buruh sekira Rp2,4 juta, seperti di Jakarta,” sebutnya.

Namun, ia kembali menyerahkan sepenuhnya besaran UMK kepada pihak terkait, karena ia tidak memiliki kekuasaan. Setidaknya, ia sudah ikut berjuang bersama sesama buruh lainnya.

Budianti berharap aksinya tidak sia-sia. Kenaikan UMK diharapkannya benar-benar terwujud, sehingga buruh sepertinya bisa hidup lebih sejahtera.

Sementara itu, aksi buruh di depan Gedung Sate berakhir sekira pukul 13.30 WIB. Aksi itu sempat terganggu hujan dan buruh banyak yang berteduh. Tapi akhirnya buruh kembali turun dan memilih berdemo sambil hujan-hujanan.

Dalam pertemuan dengan perwakilan Pemprov Jabar, ada salah satu poin yang disepakati. pemprov melalui DPRD akan mengusulkan pencabutan Inpres Nomor 9 Tahun 2013 yang dinilai membatasi hak buruh.

Pemprov juga menjanjikan akan membuat perda khusus yang mengatur masalah tenaga kerja kontrak dan outsourcing. Sementara soal besaran UMK, pemprov hanya menerima rekomendasi dari kabupaten dan kota.



Sumber : okezone.com

No comments:

Post a Comment