Friday, November 15, 2013

Demo Buruh Garmen Bangladesh Rusuh

Ratusan pabrik garmen di kawasan industri di luar Dhaka terpaksa tutup pada Senin. Pabrik ditutup akibat unjuk rasa buruh, yang menuntut kenaikan upah minimum, berujung kerusuhan.
Sekitar 500 pabrik di kawasan industri Savar, Ashulia, dan Gazipur terpaksa tutup karena bentrokan, demikian keterangan Abdul Manna Kochi, wakil presiden senior Asosiasi Eksportir dan Manufaktur Garmen Bangladesh.
“Pemilik pabrik akan membayar gaji lebih tinggi, seperti yang bakal ditetapkan komite upah [pemerintah],” paparnya. Ia mengingatkan buruh supaya lekas menghentikan aksi perusakan. “Atau, industri ini akan hancur.”

Polisi setempat mencatat paling tidak 50 orang, termasuk enam anggota kepolisian, terluka saat buruh pabrik garmen bentrok dengan polisi di sekitar Dhaka. Kepolisian sampai harus menggunakan gas air mata untuk menghalau ribuan demonstran yang merusak kendaraan. Tak hanya itu, demonstran juga berupaya memorakporandakan pabrik.
Lalu lintas di jalanan Dhaka terganggu, sesudah pengunjuk rasa membakar mobil di dalam kawasan industri Tejgaon di pusat kota Dhaka, Senin pagi.
Pengunjuk rasa juga menyerang pos polisi di Joydevpur, kawasan industri berjarak sekitar 40 kilometer sebelah utara Dhaka. Menurut Kabir Hossain, kepala kepolisian setempat, demonstran mencuri senjata dan amunisi di pos polisi itu. “Empat senapan dan lebih dari seratus peluru dijarah buruh,” katanya. Senapan-senapan  yang tercuri berhasil ditemukan dalam kondisi terbakar. “Namun, pelurunya masih hilang.”
Buruh garmen di sekitar Dhaka berunjuk rasa dalam beberapa hari terakhir guna menuntut kenaikan gaji. Para pemimpin serikat buruh mendesak pemerintah segera menaikkan upah minimum menjadi 8.000 taka atau sekitar Rp1 juta per bulan. Angka tuntutan itu melampaui dua kali lipat dari upah minimum terkini sebesar 3.000 taka. Pendapatan per kapita Bangladesh sebesar $70 atau sekitar Rp700 ribu per bulan.
Pemerintah sudah membentuk komite khusus untuk menangani persoalan upah buruh. Komite itu nantinya akan menetapkan upah minimum, sesudah berkonsultasi dengan pemilik pabrik dan buruh. Rekomendasi kenaikan diharapkan muncul pada Desember. Namun, buruh tak sanggup menunggu begitu lama.
Salah satu pabrik yang terpaksa tutup adalah Diganta Sweater milik Kamal Uddin. Lokasi pabriknya dekat dengan pos polisi yang dijarah pengunjuk rasa di Joydevpur. Menurut Uddin, sebagian pabriknya dibakar demonstran yang marah.
Uddin menuding pernyataan pemerintah Sabtu lalu telah memicu pergolakan buruh. Shahjahan Khan, menteri ekspor Bangladesh, saat itu menyatakan upah minimum akan diperbarui menjadi 8.000 taka. Khan tak bisa dimintai komentar pada Senin.
Di mata pemimpin serikat buruh, pekerja pabrik layak memperoleh upah yang lebih tinggi. Babul Akhter, presiden Federasi Pekerja Industri dan Garmen Bangladesh, menyatakan Asosiasi Eksportir dan Manufaktur Garmen Bangladesh sebaiknya berunding dengan perwakilan buruh guna mencari solusi.



Sumber :  wsj.com

No comments:

Post a Comment