Thursday, November 14, 2013

Chun Tae-il: Cahaya Inspirasi untuk Gerakan Buruh

Apakah kematian seorang buruh pabrik tekstil menjadi peristiwa yang teramat penting? Kisah Chun Tae-il, seorang buruh di Korea Selatan yang membakar diri dalam suatu demonstrasi buruh pada tanggal 13 November 1970, memang peristiwa yang penting. Mengetahui perjalanan yang dilaluinya hingga tiba pada keputusan itu dan apa yang terjadi sesudahnya membuktikan bahwa perbuatan membakar diri Chun Tae-il bukanlah tindakan naif dan keputusasaan, melainkan keputusan yang cemerlang dan berani.

Lahir pada tanggal 26 Agustus 1948 di Taegu, Tae-il tidak memperlihatkan keistimewaan apa-apa selain kemiskinan keluarganya. Pada saat itu Korea Selatan belum lama menikmati kemerdekaan dari Jepang dan terjerat ke dalam pertarungan ideologi kiri dan kanan antara dua superpower. Keadaan ini terbukti sangat menghambat gerakan rakyat dan gerakan buruh khususnya yang selalu dianggap sebagai gerakan komunis sehingga harus ditindas secara keras.
Ayahnya, Chun Sang-soo, adalah bekas buruh jahit di sebuah perusahaan garmen yang akhirnya mampu menjalankan usaha sendiri di rumah dengan 2 mesin jahit yang berhasil dibelinya. Ayahnya berulangkali gagal karena bisnis kecil yang dilakukannya sangat tidak stabil karena tergantung ada tidaknya permintaan. Tiap kali usahanya macet, Sang-soo menjadi mabuk-mabukan dan menjual apa saja yang mereka miliki untuk hidup. Selebihnya, dia akan berkeliling mencari kerja di perusahaan-perusahaan garmen yang kiranya sudi memakai keahliannya.
Ibunya, Yi So-sun adalah anak seorang pejuang kemerdekaan yang ditangkap dan dibunuh oleh Jepang. So-sun pernah dirampas oleh Jepang untuk dijadikan budak dan baru kembali ke desanya sesudah kemerdekaan dan menikah dengan Chun Sang-soo. Kendati tubuhnya lemah, tetapi kemauannya kuat dan bijaksana. Sejak menikah, dia harus berkeliling menjajakan sayuran dan makanan-makanan lain untuk turut menghudupi keluarga.
Kelaparan dan kedinginan adalah sahabat harian Tae-il sejak kecil dan keadaan itulah yang mendorongnya untuk mulai bekerja pada umum 12 tahun sebagai perjaja koran sesudah pulang sekolah. “Kalau anak-anak lain bisa, mengapa saya tidak?” demikian ditulisnya dalam buku harian. Karena penghasilan teramat kecil dan teramat banyak tidak ikut pelajaran, Tae-il akhirnya meninggalkan bangku sekolah pada catur wulan pertama kelas empat Sekolah Dasar. Sejak saat itu, Tae-il kecil lebih lama mengembara untuk bekerja apa saja daripada bersama keluarganya yang sangat miskin.
Foto: Cho Young-rae, A Single Spark. The Biography of Chun Tae-il
Kehidupan Pabrik dan Kesadaran untuk Perlawanan
Tae-il mulai bekerja sebagai buruh pabrik pada musim semi tahun 1964. Waktu itu ia berumur 16 tahun dan diterima bekerja paruh waktu sebagai “pembantu” di sebuah pabrik garmen di kompleks yang disebut Peace Market. Barulah pada musim gugur tahun 1965, Tae-il menjadi pekerja penuh di pabrik itu.
Hari-hari pertama bekerja, hati Tae-il penuh dengan mimpi dan harapan-harapan tentang masa depan yang lebih cerah. Dia percaya bahwa kalau dia sudah cukup menguasai keahlian tertentu, banyak kesempatan akan terbuka dalam hidupnya. Meskipun bekerja sampai 14 jam dalam sehari dengan upah yang tidak mencukupi untuk makan, Tae-il tetap bersemangat bekerja. Dia tidak mempertanyakan kondisi itu apalagi memikirkannya secara mendalam. 
Setelah sekian lama menjajakan tenaganya setiap hari di Peace Market dan menyaksikan penderitaan rekan-rekannya sesama buruh, khususnya buruh perempuan, Tae-il mulai merasakan kemarahan atas keadaan yang menimpanya dan buruh-buruh lainnya. Tentang hal ini Tae-il menulis,

“Saya marah bukan hanya karena kami harus mengerjakan pekerjaan berat dengan jam kerja panjang, tetapi juga karena kami harus shift malam. Kalau kami memperlihatkan ketidaksenangan kami atas shift malam, maka esoknya kami hanya diserahi sedikit pekerjaan saja yang tentu akan merugikan kami. Jadi, buruh sangat tidak berdaya. Buruh dibayar sesuai jumlah pakaian yang dihasilkan. Tetapi curangnya, tidak ada kesepakatan sebelumnya berapa kami akan dibayar untuk tiap pakaian. Maka kendatipun jam kerja kami benar-benar panjang, yang kami peroleh hanya sedikit lebih banyak yang biasa kami dapat tiap bulan. Ini benar-benar tidak adil. Kendati capeknya terasa sampai ke dalam tulang tapi usaha keras itu tidak dihargai.”

Sebagian besar buruh di Peace Market adalah perempuan yang masih belia. Secara umum, buruh-buruh di Peace Market mengalami hal-hal berikut (1) mereka menderita kurang gizi karena tidak pernah makan cukup; (2) mengalami gangguan pencernaan dan radang lambung yang kronis karena kalaupun mereka makan, makanan itu tidak sehat dan dimakan dengan tergesa-gesa; (3) mereka selalu kelelahan, wajah mereka cekung dan pucat karena tidak pernah tidur cukup malam hari atau istirahat siang; (4) mereka mengidap radang paru-paru, TBC dan berbagai penyakit pernafasan lainnya karena menghirup udara penuh debu sepanjang hari; (5) daya pandang mereka menjadi sangat buruk karena mereka bekerja dengan lampu yang temaram; (6) karena bekerja sambil duduk dengan menggerakkan kaki dan tangan tanpa henti, kaki mereka bengkak-bengkak, punggung dan lengannya sakit; (7) buruh perempuan mengalami haid tidak teratur dan berbagai penyakit lain yang khas perempuan.
Selain kelaparan yang menjadi sahabatnya setiap hari, kini ada rasa sakit juga di hatinya. Melihat langsung keadaan buruh-buruh itu rasa kecewa dan marahnya semakin besar. Pada musim dingin 1969 dia menulis di buku hariannya,

“Aku benci jaman ini dimana manusia telah menjadi komoditi, ketika kepribadian orang dan kebutuhan dasarnya diabaikan, dimana tidak ada lagi harapan. Saya benci kemanusiaan yang menghinakan diri menjadi komoditi hanya untuk dapat hidup.” 

Banyak kejadian yang membuat Tae-il merasa betapa tak berdayanya mereka sebagai buruh. Suatu hari, seorang buruh perempuan yang masih muda muntah darah sewaktu bekerja di mesin jahitnya. Segera Tae-il mengumpulkan sejumlah uang untuk membawanya ke Rumah Sakit dimana ditemukan bahwa buruh tersebut telah mengidap TBC yang akut, suatu penyakit kerja yang biasa di Peace Market. Buruh itu serta merta dipecat. Dia dipecat saat mengidap penyakit yang biaya pengobatannya lebih besar dari seluruh upah yang diperolehnya selama bekerja di Peace Market.
Tae-il juga mengalami pemecatan dengan alasan “indispliner”. Waktu Tae-il telah bekerja di bagian potong, dia sering menyuruh buruh-buruh perempuan yang telah kelelahan untuk pulang duluan sementara dia menyelesaikan pekerjaan mereka yang tersisa. Dia dipecat dengan alasan mencampuri pekerjaan orang lain dan melanggar aturan dengan menyuruh buruh-buruh pulang lebih awal. Memang Tae-il segera mendapat pekerjaan lagi di pabrik lain tetapi sudah menjadi Tae-il yang lain. Dia mulai tampil sebagai organizer buruh yang rajin mengajak sesama buruh untuk berkumpul.
Secara diam-diam ayah Tae-il, Chun Sang-soo, ternyata mengamati perubahan dalam diri Tae-il yang mulai tertarik pada nasib buruh. Ayahnya pernah bekerja di pabrik tekstik, terlibat dalam pemogokan bahkan pernah menjadi pengurus serikat. Dia telah menyaksikan banyak orang yang menjadi korban karena mengorganisir kegiatan buruh. Dia adalah bagian dari generasi yang ketakutan bahkan hanya untuk mengucapkan kata “gerakan buruh”. Awalnya Chun Sang-soo berusaha sekuat tenaga agar anaknya tidak terlibat dalam mengorganisir buruh. Tetapi akhirnya, menyadari ketulusan niat anaknya, Song-soo menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang gerakan buruh terutama tentang sulitnya dan besarnya resiko yang harus ditanggung. Pada dasarnya, ayahnya tidak terlalu senang kalau Tae-il terlibat dalam gerakan buruh, tetapi tidak kuasa menyakinkan Tae-il akan hal itu.
Satu momen penting yang membuat Tae-il lebih termotivasi adalah ketika tanpa sengaja dia menemukan Undang-Undang Pokok Perburuhan. Ayat 1 dalam UU itu mengatakan: “Tujuan menetapkan standar perburuhan adalah untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan dasar buruh”. Tae-il seperti menemukan kilauan cahaya di gua yang gelap. Banyak pasal dalam UU itu yang membuatnya terperangah karena tidak satupun yang dilaksakan di Peace Market.
Sejak saat itulah Tae-il mulai berusaha mencari teman yang bisa diajak bicara. Teman pertamanya adalah Kim Gae-nam yang juga bekerja di Peace Market tetapi pabrik yang berbeda. Kesan pertama Gae-man, Tae-il adalah teman yang aneh, sering berdiam diri dan selalu membawa buku besar ke mana-mana. Lama kelamaan persahabatan mereka menjadi akrab dan mendalam. Gae-nam lah orang pertama yang diyakinkan oleh Tae-il tentang eksploitasi yang telah terjadi di Peace Market dan bahwa sesuatu harus dilakukan atas hal itu karena UU Perburuhan sebenarnya ada untuk melindungi buruh.
Inilah awal berdirinya “Paguyuban orang-orang Dungu” (Society of Fools), yang  didirikan oleh Tae-il dan teman-temannya. Nama itu memang sengaja dipilih yang secara simbolis mau mengatakan banyak hal. Mereka memang dungu karena sekian lama diam dalam penindasan, tetapi juga dungu karena ingin melakukan sesuatu yang banyak orang lain anggap sudah mustahil. Paguyuban itu berdiri pada akhir Juni 1969. Di sela-sela jam kerja yang sangat panjang anggota paguyuban ini menyempatkan berkumpul dan mendiskusikan masalah-masalah mereka. Tae-il selalu mengambil kesempatan ini untuk menjelaskan isi UU Perburuhan. Agenda pertama yang berhasil dirumuskan oleh Paguyuban ini sebagai program mereka adalah: pertama, memperjuangkan perberlakuan UU perburuhan bagi 30.000 orang buruh di Peace Market. Kedua, untuk mencapai tujuan itu, organisasi harus diperkuat dan diperluas anggotanya. Ketiga, segera melakukan investigasi terhadap kondisi kerja buruh-buruh di Peace Market. Keempat, mencari seorang dermawan yang mau menginvestasikan modal untuk memulai suatu model usaha yang menjalankan semua ketentuan hukum perburuhan tetapi masih bisa untung. Mereka hendak membuktikan bahwa cara majikan berbisnis di Peace Market bukan satu-satunya cara.
Entah karena masih kurang pengalaman, atau Tae-il terlalu berambisi sementara teman-temannya masih mengalami ketakutan, akhirnya Paguyuban orang-orang Dungu ini bubar. Banyak usaha yang mereka lakukan gagal baik karena banyak temannya takut kehilangan pekerjaan maupun intimidasi dari pengusaha.
Tae-il terpukul berat. Untuk sekian waktu dia masih berkeliling di Peace Market mencari-cari pekerjaan tetapi tidak seorang pun mau menerimanya karena sudah di-cap sebagai biang keributan oleh para majikan. Buku UU perburuhan yang tebal sama sekali dia lupakan.
Di tengah kebimbangan dan kesedihannya karena gagal mengangkat nasib teman-temannya di Peace Market, Tae-il meminta ibunya untuk memohon kepada direktur “Immanuel House” agar Tae-il bisa tinggal di sana. Immanuel House adalah rumah doa yang terletak di kaki gunung Samgak dan sebuah gereja sedang dibangun di sana. Kendati ibunya tidak terlalu setuju, akhirnya Tae-il diterima tinggal disana sambil bekerja dalam pembangunan gereja untuk sekedar mendapatkan makan.
Ini saat pertama Tae-il berada jauh dari kengerian perbudakan yang dilihatnya di Peace Market. Malam-malam sesudah bekerja dia banyak diam dan tidak bergabung dengan buruh-buruh bangunan lainnya. Dia banyak merenung dan kadang berbicara dengan Imam yang ada di Immanuel House itu. Malam-malam yang panjang itu menjadi tahap penting dalam hidupnya karena setelah 4 bulan bekerja di bukit itu Tae-il mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia menulis dalam buku hariannya,

“Keraguan dan kengerian menghantuiku sekian lama tentang hal ini. Tapi sekarang keputusanku sudah bulat. Aku harus kembali bersama saudara-saudariku yang miskin, kembali ke rumah jiwaku dan kembali ke jiwa-jiwa muda di Peace Market yang adalah seluruh hidupku. Inilah ikrar yang kubuat dalam renunganku yang panjang: Aku harus melindungi jiwa-jiwa yang rapuh itu. Akan kuceburkan diriku, aku akan mati untukmu. Bersabar, tunggu sebentar lagi. Aku akan mengorbankan diriku sehingga tak terpisahkan lagi darimu. Kalian adalah rumah jiwaku. Tuhan kasihanilah aku. Aku berjuang untuk menjadi embun bagi jiwa-jiwa tak berdosa yang sedang layu itu. “

Berbekal tekad ini, Tae-il muncul lagi di Peace Market bulan September 1970. Karena telah menghilang sekian lama dan beberapa pengusaha sudah lupa aktivitas Tae-il sebelumnya, dia mendapatkan pekerjaan. Anggota-anggota Paguyuban orang-orang Dungu, yang sebelumnya tercerai-berai, kini berkumpul kembali dengan kehadiran Tae-il. Secara rutin mereka rapat di rumah Tae-il dan akhirnya mengubah nama kelompok mereka menjadi “Perkumpulan Persaudaraan Samdong”. Para pendiri Perkumpulan menyepakati program berikut untuk dilaksanakan: (1) segera menyebar questioner kepada para buruh tentang kondisi kerja di Peace Market. Menyusun laporan berdasarkan investigasi itu, menyampaikannya ke Menteri Perburuhan dan menuntut perbaikan; (2) setiap anggota merekrut 10 orang untuk memperkuat organisasi; (3) jika tuntutan perbaikan kondisi kerja tidak dipenuhi, kita mengadakan demonstrasi, mogok kerja, dll; (4) akan mengubah Perkumpulan menjadi serikat buruh dan menuntut dukungan dari pengusaha dan Menteri Perburuhan.
Dalam keterbatasan biaya, tenaga dan pengetahuan, mereka melakukan program di atas dengan penuh semangat. Berdasarkan investigasi, mereka menyampaikan kepada Menteri Perburuhan “ Petisi untuk perbaikan kondisi kerja pabrik garmen di Peace Market” pada tanggal 6 Oktober 1970 yang ditandatangani oleh lebih dari 90 orang buruh. Inilah pertama kali mereka berhasil merumuskan perbudakan yang mereka alami secara tertulis dan didasarkan investigasi, sesuatu yang tiap kali diminta oleh wartawan atau stasiun TV yang mereka minta untuk menulis atau menyiarkan tentang kondisi mereka.
Tanggal 7 Oktober 1970, sehari setelah mereka menyampaikan petisi, sebuah harian sore memuat sebuah artikel tentan kondisi kerja yang mengerikan di Peace Market. Dengan judul utama “16 jam sehari bekerja di ruangan tersembunyi” dan sub-judul “20.000 gadis dieksploitasi”, artikel itu persis berisi isi petisi yang dibuat oleh Perkumpulan Samdong. Hal ini menjadi peristiwa amat penting bagi mereka. Tae-il pergi ke percetakan koran itu dan membeli 300 eksemplar dan membagi-bagikan ke temannya di Peace Market. Hanya karena pemberitaan inilah pejabat dari Kementerian Perburuhan sedikit terganggu. Beberapa kali ada pejabat yang yang datang ke Peace Market baik menemui pengusaha maupun anggota Perkumpulan, tiap kali disertai segerombolan intel.
Tapi tidak ada perbaikan apapun yang terjadi dan anggota perkumpulan menyadari bahwa petisi mereka tidak digubris. Inilah alasan mereka untuk menggunakan senjata pemogokan “karena masalah kita tidak akan terselesaikan dengan kata-kata”. Maka Tae-il mengusulkan agar mereka menggelar demonstrasi di gerbang kantor Menteri Perburuhan pada tanggal 20 Oktober, bersamaan dengan hari dimana Parlemen akan mendengarkan laporan tahunan Menteri Perburuhan. Setelah mengatasi segala keraguan dan ketakutan, mereka akhirnya setuju melakukan demonstasi. Tetapi rencana ini gagal terlaksana baik karena kekurangyakinan buruh-buruh untuk terlibat maupun ketatnya penjagaan petugas. Hal yang sama terjadi dengan rencana aksi tanggal 24 Oktober.  Tae-il menyadari bahwa perlu waktu untuk menyakinkan teman-temannya tentang demonstrasi sebagai jalan keluar yang masih tersisa. Maka tanggal itupun disepakati, 13 November 1970.
Hari itu banyak sekali penjaga, polisi dan detektif di kawasan Peace Market. Anggota perkumpulan telah menyiapkan plakat-plakat dimana mereka menuliskan tuntutan maupun protes mereka. Tetapi sebelum mereka berhasil membawa plakat-plakat itu ke tengah massa buruh yang telah berkumpul di halaman Peace Market polisi dan detektif sudah berusaha merampas dan memukul serta menangkap anggota Perkumpulan yang membawanya. Dengan sekuat tenaga Tae-il dan kawan-kawan mempertahankan diri dan plakat-plakat itu. Dengan berbagai cara mereka menghindar dari kejaran polisi dan detektif, dan akhirnya mereka berhasil tiba bersama massa buruh tetapi, Tae-il menghilang sebentar. Tetapi Tae-il sadar betul-betul bahwa aparat polisi dan detektif akan menghabisi mereka saat itu juga tanpa ampun. “Sepertinya salah seorang dari kita harus mati; hanya dengan begitu hati bajingan-bajiangan ini akan tersentuh,” kata Tae-il dan meminta Gae-nam untuk menyalakan korek api dekat tubuhnya. Antara sadar atau tidak Gae-nam melakukan apa yang diminta Tae-il.
Tiba-tiba api telah melahap tubuh Tae-il karena ternyata waktu menghilang sebentar tadi, Tae-il telah menyiram tubuhnya dengan bensin. Dengan tubuh terbungkus api, Tae-il berlari ke tengah kerumunan buruh sambil meneriakkan yel-yel : “Taati Hukum Perburuhan”, “Kami bukan Mesin”, “Hari minggu libur”, “Stop Eksploitasi Buruh”, dll. Dia meneriakkan slogan-slogan itu dengan sekuat tenaga, lalu tiba-tiba tubuhnya roboh setelah kira-kira 3 menit dilahap api. Semua berlangsung begitu tiba-tiba dan setiap orang kaget sehingga tidak seorang pun berpikir untuk melakukan sesuatu. Baru setelah Tae-il roboh ada seorang buruh yang berteriak lalu membuka jaketnya dan menutup tubuh Tae-il untuk memadamkan api. Sebelum dibawa ke RS terdekat pada pukul 2 siang, Tae-il masih sempat beberapa kali meneriakkan, “Jangan biarkan kematianku sia-sia!”
Pengorbanan diri Tae-il memang benar-benar berdampak. Pukul 2.30 siang berlangsunglah demonstrasi yang penuh semangat oleh buruh-buruh teman Tae-il dengan teriakan-teriakan yang tadi keluar dari mulut Tae-il. Mereka turun ke jalan, bertarung dengan polisi anti huru-hara, mengobrak-abrik kantor polisi.
Sementara itu, Tae-il tidak mendapat perawatan yang memadai di RS selain dibalut perban lalu ditinggal begitu saja. Seorang teman Tae-il telah menjemput dan ibu Tae-il. Sekian waktu sambil menunggu pengobatan dari dokter, Tae-il masih berusaha berbicara dengan ibunya, dan dia mengatakan, “Ibu mesti menyelesaikan apa yang telah saya mulai”.
Sebelum diberitakan meninggal pada pukul 10 malam Tae-il sempat di pindah ke RS st. Mary tetapi tetap tidak mendapat penanganan yang serius karena tidak ada orang yang bersedia menjadi penjamin, tidak juga seorang pejabat Kementerian Perburuhan yang telah datang ke RS melihat Tae-il.
Membaca dan mengetahui nasib yang dialami Tae-il, terjadi kemarahan besar di masyarakat terutama mahasiswa. Segera muncul kelompok mahasiswa yang mengorganisir diri untuk pemakaman Tae-il dengan berbagai kegiatan. Hari-hari selanjutnya berbagai demonstrasi berlangsung di jalan-jalan oleh para mahasiswa ditambah dengan aksi mogok makan dan membakar diri. Lembaga-lembaga keagamaan juga mulai terlibat. Bahkan kandidat presiden dari Partai Rakyat Baru, Kim Dae-tentang kematian Tae-il mengatakan, “Kita sungguh-sungguh menyesalkan kebijakan anti-buruh dari rejim yang sedang berkuasa”.
Perjuangan dan pengorbanan Tae-il merupakan tahap penting pematangan gerakan buruh di Korea Selatan. Sejak saat itu, semangat Tae-il senantiasa bergelora di hati mahasiswa dan buruh. 
 
 
 
Sumber : majalahsedane.net.
penulis : Marsen Sinaga

No comments:

Post a Comment