Friday, February 14, 2014

Spirit Sebuah Aksi

Ada banyak cara untuk menyalakan kembali semangat kita. Salah satunya adalah dengan melakukan aksi, seperti yang kita lakukan hari ini (Rabu, 12 Februari 2014). Serentak kita bergerak dari bundaran HI – Istana Presiden – hingga Sport Hall  Kelapa Gading. Apa yang kita lakukan bukan hanya menabuh genderang perjuangan. Lebih dari itu, ini adalah cara kita untuk memperbaharui semangat dan nyala api perlawanan.

Kita melawan tirani. Kita melawan upah murah. Kita melawan pemberlakuan jaminan kesehatan yang hanya berpihak kepada orang kaya. Kita melawan koruptor dan para pelanggar HAM. Kita melawan anggaran yang tidak pro rakyat. Pendek kata, kita melawan siapa saja yang menghalang-halangi hak rakyat untuk mendapatkan kesejahteraan.
Dan kita membuktikannya. Tidak kurang dari 30 ribu anggota FSPMI kembali membanjiri ibu kota negara.
Tentu saja, ini sesuatu yang luar biasa. Pun kita bangga melakukannya. Tidak banyak yang memiliki kesempatan istimewa bisa menjadi seperti yang kita lakukan. Tentu, kami tidak akan berhenti sampai disini? Seperti tema peringatan ulang tahun yang kita usung: “Berjuang tanpa batas, melawan hingga akhir.”
Aspirasi sudah kita suarakan. Memang, tak cukup dengan turun ke jalan. Karena itulah, selanjutnya, adalah kerja-kerja lebih lanjut untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan bersama.
Senang rasanya ketika menyadari, respons positif menyebar dengan sangat cepat. Saya percaya, semangat itu menular. Spirit sebuah aksi, akan menjadi saksi betapa organisasi ini begitu dicintai. Ini bukan untuk membanggakan diri sendiri. Tetapi untuk menebarkan semangat kepada yang lainnya, bahwa perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Kita masih memiliki harapan.
Di jejaring sosial, Facebook, kita bisa menyaksikan betapa derasnya aliran semangat dalam aksi kali ini. Tak banyak tuntutan yang kita usung. Dua saja. Tentang jaminan kesehatan dan kenaikan upah untuk tahun 2015. Keduanya bukan sekedar kepentingan FSPMI, tetapi juga, kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Mari kita lihat dari dekat bagaimana semangat yang meluap.
Maxie, misalnya, ditengah kerumunan aksi ia sempat mengunggah gambar dengan disertai beberapa kalimat: “Gue bangga jadi anggota serikat buruh,” katanya.
Saya bergetar ketika membacanya.
Rasanya, tak banyak orang yang mengungkapkan kebanggaannya menjadi anggota serikat buruh ke publik. Image bahwa serikat buruh adalah perusuh masih melekat. Tetapi, disini, mereka bangga mengikrarkan dirinya sebagai bagian dari gerakan buruh. Bangga bisa turun ke jalan. Aktif menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan peningkatan kesejahteraan.
Tak hanya Maxie. Seseorang yang memiliki akun Yasin Sinar Samudra, di Facebook, juga mengungkapkan gairah yang meluap itu dengan mengupload sejumlah foto.
Ini membuktikan betapa konsolidasi di FSPMI sangat kuat. Bahwa disana-sini masih ada kekurangan, kita tak memungkiri itu. Tetapi kita selalu memiliki semangat untuk bergerak maju. Semua energi yang kita miliki, marilah kita dedikasikan untuk kejayaan Ibu Pertiwi.
Diluar semua itu, kita dituntut untuk lebih memacu diri guna melahirkan ide-ide baru sebagai strategi perjuangan. Lima belas tahun sudah usia FSPMI, sekarang. Bukan anak kecil lagi. Banyak harapan yang dibebankan di pundak kita. Tak bisa tidak, kita harus membuktikan bahwa kita bisa.
Organisasi ini memanggil kader-kadernya untuk berbuat dan bertindak. Bukan hanya berpangku tangan dan ogah-ogahan ketika diajak berjuang.
“Disini bukan tempat buruh malas. Atau mereka yang biasa tidur pulas. Disini tempatnya para pejuang, yang berjuang, dengan keikhlasan” syair lagu dalam mars FSPMI itu mengingatkan kepada kita, kerja keras itu mutlak.
Dan karena kita selalu bergerak. Tidak sedang tidur pulas. Hingga akhirnya kita bisa ‘memanjat’ setinggi ini. Angin lebih kencang menerpa. Seperti biasa, semakin tinggi, badai datang lebih kuat lagi. Tetapi kita tidak akan pernah berhenti ‘memanjat’ lebih tinggi lagi. Seberapa kuat kita bertahan?
Jika melihat foto Fauzan dibawah ini, rasanya kita akan selalu siap sampai kapanpun untuk menjaga FSPMI. Presiden FSPMI Said Iqbal pun turun langsung memimpin aksi. Seolah hendak menegaskan, jika didalam organisasi ini setiap orang memiliki andil yang sama besarnya.
Saya kira, kita sedang mengajarkan nilai-nilai luhur perjuangan. Pemimpin tidak boleh hanya berada duduk manis di singgasana kekuasaan. Ia harus turun tangan. Bahu membahu bersama-sama dengan rakyatnya untuk berjuang.
Melihat mata-mata yang berbinar cerah penuh harapan, saya membayangkan, barangkali itulah sebabnya Hermawan Santoso menulis puisi yang ditujukan untuk FSPMI. Puisi yang dengan baik melukiskan gambaran hati kita semua.
puluhan bahkan ratusan demonstrasi pernah kau lakukan.
puluhan bahkan ratusan puja puji caci maki hujatan terlempar di mukamu.
puluhan bahkan ratusan aksi solideritas terhadap buruh terpinggirkan sudah menjadi kebiasaanmu.
dan …
puluhan bahkan ratusan ribu anggota tetap mencintaimu.
ku langitkan HUT FSPMI ke 15.
ada cerita sedih tapi banyak cerita gembira tentangmu.
ada cerita kekalahan tapi banyak cerita kemenangan tentangmu.
ada banyak pengusaha hitam membencimu tapi dunia mengakuimu.
dan …
ada banyak cerita sedu sedan tentangmu, tetapi ratusan ribu anggota tetap mencintaimu.
ku langitkan HUT FSPMI ke 15.
ku kepalkan tangan kiri ke langit.
ku lihat banyak orang berteriak.
lawan ! lawan ! lawan !
lawan kaum yang menistakan kaum buruh.
lawan kaum yang dzalim terhadap kaum buruh.
lawan kaum yang munkar terhadap gerakkan kaum buruh.
oh FSPMI ku …
ku langitkan selaksa doa di hari ulang tahunmu.
oh FSPMI ku …
Ku langitkan pada tuhanku untuk kehormatan kaum buruh.
amanahlah kau selalu wahai pemimpin dan anggota FSPMI …
padang masyar akan meminta tanggung jawabmu
Dan jika kita menyadari begitu banyak orang yang mencintai organisasi ini, tegakah kemudian kita menciderai?
Tidak bukan?
Hari ini, segala puja dan puji berhamburan. Tentu kita tak ingin terbang ketika dipuji. Karena konsekwensi dari semua itu adalah pembuktian, bahwa kita memang setangguh yang mereka harapkan. Sekali lagi, semangat itu menular. Mari saling menyemangati. Hentikan saling menghujat diantara sesama kita.
Mari kita terbang ke Batam. 
Irwan Aja memperlihatkan kepada kita sebuah foto yang menggambarkan keceriaan kawan-kawan disana, ketika melakukan aksi di Kantor Walikota. Nun jauh disana, ratusan kilometer dari Jakarta, kawan-kawan juga bergerak.
Seorang kawan dari Batam, Indra, mengatakan didalam jejaring sosial: “Dirgahayu FSPMI Ke-15. Semoga makin solid, progresif serta istiqamah. Berjuang & bergerak tanpa batas. I Love FSPMI.”
Ya, ya…. I Love FSPMI.
Kita semua mencintai organisasi ini. Kecintaan itulah yang kemudian membuat kita memiliki kesadaran untuk membayar iuran 1% sesuai dengan yang ditentukan didalam AD/ART FSPMI. Kecintaan itulah yang membuat kita tetap gembira, meskipun harus turun ke jalan dengan biaya sendiri.
Di Surabaya, Ardian FSPMI menulis: “Perjuangan ini indah jika dilakukan bersama-sama.”
Saya setuju dengan kalimat itu. Bahkan, tidak hanya indah. Kebersamaan juga melipatgandakan kekuatan. Kebersamaan selalu memberikan ruang bagi kita untuk selalu memiliki semangat. Dan jika semangat sudah hilang, itu pertanda cita-cita perjuangan sudah padam.
Tugas kita adalah menjaganya. Agar kebersamaan ini tak lekas berlalu.
Di Jawa Timur Ningtieas Srikandi Terpasung menulis:
Bergerak bersama menjemput perubahan…
Massa dari timur menuju Kantor DPRD Kab. Pasuruan untuk bersama massa dari barat menuntut pelaksanaan PERDA No 22 tahun 2012 dan menuntut pelaksanaan BPJS yang menyeluruh tanpa tebang pilih…

Sekaligus memperingati HUT FSPMI ke 15…
Saya kira, semangat untuk terus bergerak bukan tiba-tiba. Ada proses yang sedang berjalan. Meskipun, tidak semua orang menyadari akan adanya proses itu.
Direktur TURC Surya Tjandra, ketika memberikan sambutan dalam Pembukaan Rapat Pimpinan FSPMI mengatakan, sebuah kehormatan ia bisa hadir dan berbicara didepan anggota FSPMI. Menurut Surya, FSPMI tidak hanya sebagai organisasi buruh. Tetapi juga mejadi gerakan sosial terdepan di negeri ini.
Baginya, FSPMI adalah pelopor sebuah serikat pekerja yang modern. Sejak berdiri, pada tahun 1999 yang lalu, FSPMI telah melakukan reformasi sistem iuran anggota. Tentang iurang anggota serikat pekerja 1%, itu hampir ada di semua AD/ART serikat pekerja mana pun. Akan tetapi baru anggota FSPMI yang mau lebih serius dan bersedia membayar iuran sebesar itu.
Lalu, dari iuran sebesar itu, 40% disetorkan ke organisasi ditingkat pusat. Ini terobosan yang jitu. Dengan begini, dewan pimpinan pusat menjadi sangat kuat. Karena dewan pimpinan pusatnya kuat, maka struktur di hampir semua daerah pun menjadi kuat. Barangkali inilah yang kemudian menjadikan FSPMI memiliki energi lebih untuk melakukan gerakan dari pabrik ke publik.
Sementara banyak serikat buruh lain yang mengandalkan dari bantuan. Misalnya, dari Jamsostek. Ini tidak salah. Karena uang Jamsostek juga uang buruh. Hanya, yang berbahaya adalah, jika urusan hidup mati organisasi ditentukan oleh orang lain.
Tidak hanya kinerja organisasi. Tetapi, FSPMI juga yang terdepan dalam mengusung isu. Jaminan kesehatan dan upah, adalah dua isu yang tidak hanya berhubungan dengan buruh. Tetapi ini adalah isu yang berkaitan secara langsung dengan kehidupan seluruh rakyat. “FSPMI berhasil memperjuangkannya,” kata Surya.
FSPMI adalah kekuatan dibalik lahirnya KAJS. Tanpa FSPMI, tidak ada KAJS. Tanpa KAJS, tidak ada UU BPJS. Dan tanpa UU BPJS, tidak ada jaminan kesehatan yang mencakup seluruh rakyat.
Selain Surya Tjandra, IndustriALL representative in South East Asia Pacific, Vonny Diananto, juga menyampaikan sambutan. Vonny adalah sosok yang ikut mendirikan FSPMI. Sebelum berkantor di Singapura, dari tahun 1999 – 2012 Vonny menduduki jabatan penting di FSPMI. Terakhir, ia menjabat sebagai Senior Vice President DPP FSPMI.
Menurut Vonny, FSPMI bukanlah cerita masa lalu. Tetapi FSPMI adalah bagian dari sejarah hidupnya di masa lalu, masa kini, dan di masa yang akan datang.
Perjuangan FSPMI dalam memperjuangkan isu-isu publik adalah menjadi tonggak penting tumbuhnya kesadaran kaum buruh. Inilah yang kemudian mengilhami gerakan. FSPMI tidak hanya menyelesaikan masalah ditingkat pabrik. Tetapi juga, di ruang publik.
Presiden FSPMI Said Iqbal mengatakan, FSPMI harus terus bergerak. Bagi organisasi ini, bergerak adalah untuk memenuhi panggilan sejarah. Ketika buruh ditindas, ia harus bergerak untuk melawan penindasan itu. Ketika buruh diberi dengan upah murah, ia harus bergerak untuk memperjuangkannya.
Buruh tidak boleh menjadi obyek eksploitasi. Buruh harus tampil kedepan dengan gagah berani dan kemudian dengan tegas mengatakan agar dihentikan semua penindasan.
Kita bangga bisa kembali turun ke jalan. Ada dua isu yang sedang diperjuangkan secara nasional. Tentang jaminan kesehatan. Jangan ada satu pun rakyat di negeri ini yang ditolak berobat ke rumah sakit. Sedangkan isu yang kedua tentang upah. Tahun 2015, upah minimum harus naik 30%. FSPMI berjanji akan terus bergerak untuk memperjuangkannya.
General Secretary IndustriALL Global Union Jyrki Reina yang memberikan sambutan dalam Pembukaan Rapim FSPMI mengatakan, “saya mencintai FSPMI. Karena kalian punya konsep. Mobilisasi yang hebat demi perjuangan.”
FSPMI adalah keluarga besar dari Serikat Buruh Dunia yang berganggotakan lebih dari 50 juta buruh di lebih dari 140 negara. “FSPMI menjadi contoh dan inspirasi gerakan buruh di dunia,” kata Jyrki Reina. Lebih lanjut, ia mengatakan, bahwa IndustriALL mendukung perjuangan untuk upah layak dan jaminan sosial untuk seluruh rakyat.
Di penghujung acara, 7.000 anggota FSPMI yang hadir di Sport Hall Cempaka Putih memang disuguhi penampilan grup musik papan atas Indonesia, SLANK. Kita senang dengan performance SLANK, sekaligus menyisakan keharuan. Haru, karena tidak semua kawan-kawan FSPMI yang ikut aksi ke Istana bisa hadir dan bergembira disini.
Tetapi mereka ikhlas dengan semua itu.
Ini memang bukan kerja yang mudah. Kita lelah. Tetapi kerja keras dan keletihan kita dengan segera terbayar ketika menyadari massa aksi yang massif dan solid.
Presiden FSPMI Said Iqbal, malam setelah acara ini berlangsung menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota FSPMI . “Terima kasih atas kerja keras dan kesungguhan hati kawan-kawan dalam kegiatan hari ini di seluruh Indonesia demi kehormatan kaum buruh dan rakyat Indonesia yang lebih baik di tanah tercinta ini. Sebagai presiden FSPMI, saya terharu dan menaruh rasa hormat kepada kawan-kawan yang ternyata tetap bisa mempertahankan daya juang dan semangat perlawanan tuk sebuah keyakinan memperbaiki nasib kita bersama. Semoga ALLAH SWT menjadikan ini sebagai amal shaleh dan kebaikan untuk kawan-kawan semua.”
Barangkali, itulah spirit dari sebuah aksi.
Semangatnya masih terasa hingga kini. Indahnya kebersamaan, seoalah hendak menegaskan kepada kita, bahwa perjuangan ini tidak kita lakukan sendirian. Banyak orang yang bersedia mengulurkan tangan. 


Sumber : fspmi.or.id

No comments:

Post a Comment