Thursday, February 20, 2014

Hendak Demo, Buruh Tambang Diserang Ratusan Massa

Aksi unjuk rasa 80 orang yang tergabung dalam Solidaritas Pekerja Tambang Nasional (Spartan) bersama elemen mahasiswa di Kendari, Rabu (19/2/2014), diserang ratusan orang yang diduga simpatisan Gubernur Sulawesi Tenggara.

Massa Spartan yang tengah berkumpul di parkiran eks MTQ di Jalan Abdullah Silondae, Kendari sebelum menyampaikan aspirasinya langsung dibubarkan. Tanpa bicara, massa penyerang berjumlah 300 orang, langsung merampas mikrofon dan spanduk. Sementara sebagiannya mengejar massa dari kelompok Spartan hingga ke jalan raya.


Koordinator aksi dari Spartan, Al Hayun mengaku kaget dengan aksi penyerangan yang dilakukan secara spontan oleh kelompok massa tersebut. Akibat kejadian tersebut, satu orang mahasiswa, La Ode Rahmat Hidayat mengalami cedera di bagian kakinya.

“Awalnya kami kumpul pukul 09.00 menunggu kendaraan sambil membentangkan spanduk dan sempat orasi, tapi tiba-tiba datang 30 mobil pribadi ditambah 5 unit angkot. Kemudian sekitar 10 menit menyusul 5 mobil lagi, tanpa bicara mereka langsung menyerang dan mengejar kami hingga keluar dari eks MTQ,” tutur Hayun.

Pihaknya sempat melihat kelompok penyerang berpakaian baju kaos bertulisan "Sahabat Nusa" dan baju kemeja bertuliskan salah satu partai. Sementara sebagian massa mengenakan pakaian biasa.

“Dalam barisan penyerang itu ada juga wakil ketua DPRD Konawe yang berasal dari PAN. Kami tahu, setelah keponakannya yang bergabung dalam aksi Spartan kaget melihat pamannya menyerang,” ungkap Hayun.

Menurutnya, aksi yang disuarakan Spartan menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2014 tentang Pelarangan Ekspor Mineral dalam Bentuk Mentah. Jika tidak, maka pemerintah harus membayar pesangon karyawan tambang yang telah dirumahkan.

“Kami juga mendesak KPK segera mengambil alih dari Kejaksaan Agung, penanganan kasus dugaan suap dan pencucian uang sebesar USD 4,5 juta atau setara Rp 36 miliar yang diduga berasal dari pengusaha tambang asal Taiwan bernama Mr Chen. Meminta PPATK untuk memeriksa kekayaan Gubernur,” terang Hayun.

Aksi penyerangan tersebut, lanjut Hayun adalah bupaya pembungkaman demokrasi pekerja dan mahasiswa dalam menuntut keadilan. “Ada kepanikan gubernur dan pendukungnya, karena penyerangan dengan pembubaran paksa kepada kami, sudah dua kali dilakukan,” tegasnya.



Sumber : kompas.com

No comments:

Post a Comment